Jumat 27 maret pukul 4.30, kembali lagi tragedy bencana alam terjadi di Indonesia, tidak tanggung tanggung sekitar 43 tewas hingga pukul 12 siang tercatat belum yang masih hilang dan luka. Ya, tragedy tersebut bernama situ gintung, suatu danau buatan di daerah ciputat tanggerang banten yang jebol tanggulnya yang mengakibatkan bajir air bah di pagi buta tersebut. Hingga tulisan ni dibuat petugas sar dan masyarakat masih sibuk mencari korban yang hilang dan belum diketemukan akibat banjir tersebut. Evakuasipun belum sepenuhnya bisa dilakukan mengingat kondisi tanah disekitar lokasi masih labil dan rawan terjadi longsor. Sebagai informasi tambahan danau situ gintung merupakan danau buatan yang digunakan untuk wisata dan pengairan. Sayangnya topografi lokasi dimana danau situ gintung letaknya lebih tinggi dari pemukiman warga.
Tidak kurang dua petinggi negeri sby dan yusuf kalla dalam setengah hari ini telah meninjau lokasi bencana dan memberi instruksi procedural untuk mengatasi bencana.
Disaat negeri sedang mempersiapkan hajat besar pemilu 2009 ternyata bencana masih saja mengancam bahkan menerjang masyarakat Indonesia. Belum cukupkah penderitaan warga akibat bencana yang seolah sekarang menjadi jadwal rutin yang tidak bisa ditolak jawabannya tentunya kembali lagi pada manusia yang sudah tidak peduli lagi dengan keberadaan alam. Kuncinya adalah keseimbangan antara perilaku manusia dan pemeliharan alam. Ketika alam telah dimasuki tangan tangan bisnis maka orientasi keseimbangan tidak lagi dihiraukan. Yang ada hanyalah bagaimana eksploitasi alam terus menerus dilakukan demi mengejar profit semata.
Tragedy situ gintung jumat fajar kembali membuka mata manusia untuk kembali sesaat tersadar akan pentingnya keharmonisan hidup dengan alam. Bencana seolah tidak berkompromi dengan lokasi mau di kota di desa maupun dimana saja setiap saat bahaya siap menerjang manusia yang tidak lagi hirau dengan alamnya. Sayangnya kesadaran yang dimiliki manusia saat ini masih bersifat spontan, hari ini mungkin kita terhenyak dengan tragedy situ gintung, barangkali dua hari lagi kita sudah larut dalam perbincangan caleg mana yang mau dicontreng besok. Mau gimana lagi memang itu yang terjadi dengan yang namanya manusia saat ini. Semoga tulisan ini sekedar mencoba mengingatkan dan selalu mengingatkan posisi kita sebagai individu dan sebagai manusia yang selalu serakah dengan alam atau bahkan dengan manusia yang lain. Dan terakhir kita doakan bagi para korban bencana situ gintung untuk mendapat tempat di sisiNYA dan kesabaran selalu menaungi bagi keluarga yang ditinggalkannya.amieen
Agusigit
Pengamat media, pendidikan dan anak anak

Tidak ada komentar:
Posting Komentar